Penyakit non-diskriminatif langka, ketersediaan diagnosis penting untuk pengobatan

Laporan Reporter Tribunnews Choirul Arifin-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Selama ini, penyintas penyakit langka dan keluarganya banyak mendapat stigma negatif. Rendah, sekitar 1: 2.000.

Sekitar 80% kasus penyakit langka disebabkan oleh penyakit genetik, dan 30% kasus meninggal pada anak di bawah usia 5 tahun.

Diagnosis adalah kunci untuk semua orang.Pasien dengan penyakit langka bisa mendapatkan pengobatan yang tepat. Obat-obatan (obat-obatan yatim piatu) atau makanan khusus (makanan yatim piatu) dapat digunakan untuk mengobati penderita penyakit langka.

“Pasien dengan penyakit langka mungkin memiliki pola makan yang berbeda untuk setiap penyakit. Misalnya, pasien saya Gloria didiagnosis dengan galaktosemia tipe 1. Saat mengonsumsi laktosa, dia Dr. Damayati Rusli Sjarif (K.), Direktur RSUPN Cipto Mangunkusumo Center for Rare Diseases (K.) akan berada di Jakarta pada Sabtu (11/10/2020) di webinar We Care For Rare membedah penyakit langka dan pencegahannya .

Baca Juga: Gadis Perawan Penyakit Langka di Bekasi, Organ Menghitam – Baca Juga: Mayat Perempuan Ditemukan di Bebatuan Sungai Tajum Banyumas

Profesor Damayanti Jelaskan Saat Ini, Konsumsi susu formula asam amino bebas tanpa galaktosa dapat meningkatkan tumbuh kembang pasien. Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari belum tersedianya laboratorium genetik yang lengkap untuk diagnosa, ketidakmampuan memperoleh obat hingga keterbatasan biaya.

Hal ini Sebab, Indonesia belum menikmati semua biaya jaminan kesehatan nasional.Untuk menegakkan diagnosis, biaya per pasien setinggi Rp 13 juta.

Leave a comment

login s128_sabong ayam judi taruhan_adu ayam judi taruhan